 |
| Peta Wilayah Sabah, Malaysia (www.borneo.com.au) |
Orang-orang bersenjata dari Kesultanan Sulu, Filipina, sudah sepekan ini
menduduki sebuah wilayah di Sabah, Malaysia. Mereka menganggap wilayah
tersebut sebagai warisan Kesultanan Sulu yang harus dikembalikaan.
Aksi
ini dilakukan setelah Kesultanan Sulu merasa dirugikan dengan
kesepakatan damai antara pemerintah Filipina dengan Front Pembebasan
Islam Moro (MILF) di Kepulauan Mindanao. Kesepakatan ini menyebut
Mindanao--termasuk Sulu--sebagai wilayah otonomi Bangsamoro dan
memberikan sebagian besar wilayah untuk dikelola secara independen.
Kesepakatan
tersebut menyebabkan Kesultanan Sulu merasa tidak mendapat lahan lagi
dan berniat merebut wilayah mereka di tempat yang lain, yaitu Sabah,
Malaysia.
Lantas, apa yang menyebabkan Kesultanan Sulu berani
mengklaim wilayah Sabah sebagai tanah warisannya? Kolumnis Rita Linda V.
Jimeno, sebagaimana dimuat oleh
Manila Standard Today, Senin 18 Februari 2013, menuliskan jejak sejarah kaitan antara Kesultanan Sulu dengan wilayah Sabah.
Dalam
sejarahnya, sejak 1473 hingga 1658, Sabah yang dahulunya dikenal
sebagai North Borneo merupakan wilayah Kesultanan Brunei. Namun pada
1658, Sultan Brunei memberikan wilayah ini kepada Sultan Sulu. Pemberian
ini sebagai balas jasa bagi Sultan Sulu yang membantu meredam perang
sipil di Kesultanan Brunei.
Pada 1761, Alexander Dalrymple,
seorang pejabat Bristish East India Company, melakukan perjanjian dengan
Sultan Sulu untuk menyewa Sabah sebagai pos perdagangan Inggris.
Kesepakatan sewa-menyewa itu termasuk penyediaan tentara oleh Kesultanan
Sulu untuk mengusir Spanyol.
Pada 1846, pantai barat Borneo
diserahkan oleh Sultan Brunei ke Inggris. Jadilah pantai barat Borneo
itu menjadi koloni Kerajaan Inggris.
Di tahun-tahun berikutnya,
terjadi serangkaian penyerahan hak sewa atas Sabah atau North Borneo
ini. Akhirnya hak sewa jatuh ke Alfred Dent yang kemudian membentuk
perusahaan yang dikenal dengan British North Borneo Company.
Pada
1885, Inggris, Spanyol, dan Jerman, menandatangani Protokol Madrid yang
mengakui kedaulatan Spanyol di Kepulauan Sulu. Pengakuan ini ditukar
dengan pelepasan Spanyol atas segala klaimnya di Borneo Utara atau Sabah
untuk mendukung Ingris. Pada 1888, Sabah resmi menjadi protektorat
Inggris--yang kemudian menduduki Malaysia sebagai jajahan.
Setelah
Perang Dunia II, Inggris berniat mengembalikan Sabah ke Kesultanan
Sulu. Untuk proses itu, dilakukanlah pemungutan suara, untuk menentukan
apakah rakyat Sabah memilih bergabung dengan Federasi Malaisia atau
kembali ke Kesultanan Sulu. Dan hasilnya, rakyat Sabah lebih memilih
bergabung ke Malaysia daripada kembali ke Sulu.
Pada 16 September 1963, Sabah bersatu dengan Malaysia, Sarawak, dan Singapura, membentuk Federasi Malaysia merdeka.
Menurut
Jimeno, klaim ahli waris Kesultanan Sulu tidak hanya didasarkan pada
perjanjian sewa antara Kesultanan dengan North Borneo Company yang
dibentuk Inggris. Namun, klaim itu juga didasarkan pada keputusan
pengadilan tinggi North Borneo pada 1939. Klaim ini dianggap lebih dulu,
jauh sebelum pembentukan Federasi Malaysia.
Klaim FIlipina atas
Sabah, atas nama Kesultanan Sulu, sebenarnya bukan kali ini saja
terjadi. Klaim itu pertama kali dilakukan pada masa Presiden Diosdado
Macapagal pada 1962, sebelum Malaysia terbentuk. Namun klaim ini telah
berlarut-larut dari tahun ke tahun.
Sumber:
VIVAnews